Cara Mudah Membangun Struktur Skenario Bernilai Jual

Cara Mudah Membangun Struktur Skenario Bernilai Jual

Oleh: Sokat Rachman

Setelah mengetahui bentuk skenario, sekarang saya ingin berbagi tulisan mengenai tahapan menulis sebuah skenario.

“Skenario adalah acuan (blueprint) dasar yang ditulis secara teknis untuk membuat Film.”

Sokat – Panduan menulis Skenario

Walau secara konsep penulisan berbeda dengan cerpen atau novel, tetapi skenario memiliki kesamaan dalam penyampaian cerita.

Skenario memang lebih banyak digunakan untuk membuat Film cerita yang memiliki elemen intrinsik yang sama dengan karya sastra lainnya, yaitu memiliki karakter, plot, konflik, set, dan point of view (POV).

Dengan adanya kesamaan penyampaian cerita itulah, maka penulisan skenario pun tidak jauh beda teknisnya.

Tetap seja, seperti yang saya sudah katakan, menerapkan aturan drama tiga babaknya Aristoles yang termasyur itu.

Walau pada penerapannya terdapat modifikasi, tapi konsepnya tetap sama, ada konflik, perkembangan konflik, dan selesai.

Mudah, kan?

Ya, saya juga berpikir memang menulis skenario itu mudah dan setiap orang bisa melakukannya.

Penulisan skenario adalah teknis dan teknis bisa dipelajari apabila dimengerti.

Sokat – Panduan Menulis Kreatif

Itu intinya; mengerti.

Bagaimana untuk bisa mengerti?

Ada banyak buku skenario di pasaran yang bisa dibeli dan dibaca untuk bisa memahami bagaimana struktur skenario terbentuk.

Dulu ketika saya mulai berpikir untuk menulis skenario, saya juga membeli beberapa buku mengenai teknik penulisan skenario.

Kelemahan buku adalah tak ada tempat bertanya ketika kita tidak memahami isinya.

Maka itulah saya memutuskan mengikuti kursus sinematografi di pusat perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan selama 1 tahun.

Bukan cuma itu, saya juga mengikuti workshop penulisan komedi situasi selama 4 tahun.

Alhamdulillah, bukan cuma untuk penulisan skenario saja, saya pun  mengerti elemen lain yang mendukung pembuatan film, seperti tata kamera dan pencahayaan, sound, penyutradaraan, manajemen produksi, dan tentunya Film sebagai seni dan budaya satu bangsa.

Skenario memang tidak bisa lepas dari unsur pembentuk film lainnya.

Walau pun skenario hanya berupa teks, tetapi isinya adalah acuan yang memuat semua unsur pendukung dalam Film.

Di skenario, penulis bisa menjelaskan posisi tokoh dalam sebuah set, apakah dia berdiri, duduk, atau tertidur.

Selain itu juga penulis bisa menyertakan suasana di sekitarnya, waktu, juga pakaian yang dikenakan.

Itu semua akan membantu para kru Film memujudkan teks yang ada ke dalam media visual sehingga sesuai dengan pemikiran penulisnya.

Lalu, bagaimana cara menyusun struktur skenario?

Berawal dari Ide

Setiap skenario ditulis berdasarkan ide yang dimiliki oleh seorang penulis.

Atau ide orang lain yang diketahui dan dikreasi ulang oleh penulis.

Kok bisa?

Bisa.

Sampai sekarang ini, yang namanya ide sudah tidak ada lagi yang asli alias original, walaupun itu muncul dari buah pikir penulis sendiri sebab pasti ide yang tercetus itu pernah dibuat atau diterjemahkan orang lain ke dalam karya lain.

Namun, jangan khawatir, selama kita tidak  menggunakan ide yang sama dengan orang lain dengan sama persis, baik tokoh, cerita, dan tempatnya, kita terlepas dari yang namanya menjiplak atau plagiat.

Itu juga berlaku pada diri kita ketika melihat satu karya orang ada kemiripan ide dengan yang kita punyai.

Jadi, mari berpikir terbuka.

“Tidak ada ide yang baru, kecuali sesuatu yang lama dan dimodifikasi sedemikian rupa membentuk cerita baru.”

Sokat – Panduan Menulis Kreatif

Lalu, dari mana kita mendapat ide?

Pertanyaan ini selalu saya dapat ketika saya mengatakan pekerjaan saya sebagai penulis kepada teman atau orang yang baru kenal.

Jawabannya tetap akan sama.

Ide bisa kita dapat dari kehidupan kita.

Dalam 365 hari menikmati hidup, plus 24 jam sehari, akan begitu banyak percikan-percikan ide yang kita temui.

Ya, ide adalah percikan gagasan yang terlontar secara sengaja atau tidak yang akan menjadi cikal bakal satu cerita.

newspaper-973049_640
Sumber ide 

Kita tahu, kalau diminta menyebutkan soal superhero, kemungkinan terbesar yang terlontar dari jawaban itu adalah nama Superman.

Walau pun ada superhero lain yang didukung orang sama hebatnya, yaitu Batman.

Lalu, kemungkinan juga orang yang mengetahui pola pikir itu tercetus idenya untuk membuktikan siapa yang paling unggul, Superman atau Batman?

Jadilah ide itu menjadi bagian konflik dari Film Superman vs Batman: Down of Justice

Mudah, kan?

Kita hanya membutuhkan sedikit kesabaran untuk menyusun percikan-percikan ide yang terlontar membentuk sebuah ide yang utuh.

Merumuskan ide dengan Premis

Setelah kita mendapat ide akan menulis tentang cerita apa, biar jelas dan sempit cakupannya, maka kita  meringkasnya dalam satu kalimat yang disebut PREMIS.

Jadi,cerita yang sudah kita rancang di pikiran, kita kerucutkan sehingga jelas dan terbaca oleh olang lain yang berkepentingan, dalam hal ini produser dan sutradara maksud dari ide cerita kita.

Bagaimana membuat premis?

Mendeskripsikan cerita Film dalam satu kalimat memang bukan perkara gampang, tapi kalau dibiasakan melakukannya kelak kita akan bisa mudah menggoda seorang produser Film untuk membeli cerita kita.

Kekuatan premis atau sebagian kalangan menyebutnya dengan logline yang baik adalah orang bisa jelas melihat seperti apa Film yang sedang kita rancang, sehingga memudahkan pemasaran.

Kenapa saya bicara soal Film, bukan skenario?

Itu sebab skenario adalah hanya salah satu rangkaian kerja untuk memproduksi Film.

“Skenario bukan produk akhir, melainkan produk awal dari sebuah proses pembuatan Film.”

Sokat – Panduan Menulis Kreatif

Maka, kita harus merumuskan skenario yang akan kita buat dengan jelas dalam satu kalimat, sehingga orang mudah melihat genre cerita seperti apa Filmnya kelak.

Untuk menulis premis yang singkat itu, bisa kita pakai rumusan yang dikatakan oleh Krevolin dalam Rahasia Sukses skenario Film-film Box Office (2003:17), yaitu: “Sangat sering sebuah cerita dimulai dengan dua kata BAGAIMANA JIKA? dan untuk benar-benar mengembangkan cerita, Anda juga perlu memasukkan dua kata lagi DAN KEMUDIAN?”

Sampai di sini mengerti?

Atau makin bingung?

Sekarang kita ambil contoh begini, bagaimana jika seorang petunjuk arah sekarat terluka dan anaknya dibunuh koleganya, lalu ditinggal di hutan pada musim dingin sebelum perang saudara Amerika, dan kemudian dia ditolong pengelana lain untuk kembali ke rombongannya.

Sudah jelas terlihat bagaimana Filmnya, kan?

Ada waktu kejadian, karakter, dan konflik.

Ketika premis itu ditulis skenarionya dan digarap menjadi Film, maka tayanglah di bioskop seluruh negeri dengan judul The Revenant.

Leonardo DiCaprio yang mendapat penghargaan Oscar 2016 untuk aktor terbaik dalam perannya sebagai pemburu petunjuk arah dalam Film tersebut.

Untuk mudah mempelajari premis, lihatlah poster Film yang akan tayang di bioskop, biasanya ada satu kalimat di poster itu yang menyiratkan isi dari Film.

Chappie
Poster Film dengan premis.

Mengurai Premis menjadi Basic Story

Kalau premis kita sudah bisa membuat orang tertarik untuk mengetahui detail ceritanya, kita lanjutkan dengan membuat basic story.

Basic story merupakan penjabaran global cerita yang kita miliki dari awal, tengah, dan akhir.

“Awal, tengah, dan akhir cerita maksudnya adalah sejak pengenalan tokoh, konflik, dan penyelesaian.”

Sokat – Panduan Menulis Kreatif

Penulisannya ringkas, kalau bisa tak lebih dari satu halaman A4 spasi ganda.

Karena ringkas, gunakan kata-kata yang efektif, sehingga tidak berbunga-bunga.

Jauhkan juga perkataan yang memiliki arti ganda.

Makin mudah dimengerti, makin cepat sampai pesannya ke pembaca, yaitu produser.

Ingat, Produser adalah orang yang sangat amat sibuk, waktunya tak banyak, jadi ketika kita ada kesempatan untuk menunjukkan cerita yang sudah kita rancang, pergunakan basic story yang efisien.

Dari basic story itu, bisa dilihat menarik-tidaknya sebuah cerita.

Seorang penulis skenario harus benar-benar menyampaikan ide yang ada di kepalanya dalam basic story ini agar sampai dengan pemahaman yang sama dengan produser.

Pada basic story juga disertakan ringkasan data dari karakter cerita kita.

Jangan lupa, basic story juga berisi informasi tentang genre cerita kita, baik itu drama, komedi, atau thriller.

Informasi ini akan menjadi pegangan buat produser untuk mencari elemen inti dari genre tersebut.

Kalau komedi sudah terbayang kelucuannya, kalau thriller tercantum ketegangan yang diandalkan dalam ceritanya.

Sebuah basic story bisa dimulai dengan kalimat berikut….

Cerita ini adalah kisah tentang seorang penemu robot yang mampu memberikan artificial inteligence kepada ciptaannya sehingga robot tersebut memiliki kemampuan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan tanpa campur tangan manusia… dst. (Chappie)

Memaparkan basic story dalam Sinopsis

Setelah kita merangkum ide ke dalam bentuk basic story, kita lanjutkan dengan membuat sinopsis.

Sinopsis memuat informasi yang lebih lengkap mengenai cerita kita.

Dalam sinopsis, termuat sejumlah informasi penting, antara lain :

  1. Tokoh utama dan tokoh sampingan.
  2. Peristiwa dan waktu kejadian.
  3. Jalur cerita utama dan jalur cerita sampingan.
  4. Motivasi tokoh dan cita-cita yang ingin diraih.
  5. Hambatan yang dihadapi tokoh utama dalam menggapai cita-citanya.

Sinopsis dibuat dalam bentuk naratif yang jelas sehingga sekali baca orang sudah paham susunan plot ceritanya.

Paparan yang kita buat harus memasukkan sejumlah informasi di atas tadi.

Jadi, ketika kita membuat cerita sudah memakai nama tokoh-tokohnya.

Nama tokoh yang harus ada minimal itu adalah tokoh protagonis, antagonis, dan side kick (tokoh pembantu).

Cerita dalam sinopsis harus bertutur dalam dramaturgi yang jelas; ada awal, tengah, dan akhir.

Protagonis sebagai tokoh utama akan menggerakkan cerita sesuai dengan motif yang dibuatnya.

Cerita Film harus berawal dari motif tokoh utama ini.

Sebab tanpa motif, besar kemungkinan cerita akan berjalan datar atau flat secara konflik.

Tanpa motif, tokoh-tokoh akan seperti boneka yang dimainkan. Ada tapi tak hidup.

Penonton akan merasa jenuh dan merasa tertipu dengan cerita yang tidak jelas.

Hati-hati dengan hal ini.

Untuk menghindari hal itu, kita sudah mengetahui konflik yang dihadapi tokoh utama sejak basic story.

Pada sinopsis ini, kita uraikan saja, tokoh kita punya keinginan apa dan apa penghalangnya.

Ya, semua motif berasal dari KEINGINAN.

Keinginan tokoh utama kita yang akan menggerakkan cerita.

Dari keinginan itu akan timbul masalah. Masalah ini, datangnya dari tokoh lawan, yaitu antagonis.

Selanjutnya, tokoh utama kita akan melawan antagonis demi mencapai keinginannya.

Di akhir, tokoh utama kita pasti menang, persoalan dia mencapai keinginan atau tidak itu tergantung kebutuhan cerita.

Bisa saja tokoh utama tidak mendapatkan keinginannya, tapi tergantikan oleh sesuatu yang lain, bisa prestasi, cinta, atau apa pun.

Di akhir cerita, biasanya tokoh utama akan mengalami perubahan sikap.

Itu terjadi sebab dari akibat telah melalui konflik untuk menuju keinginannya dan itu akan menunjukkan sikap bijak pada dirinya.

Misalnya, ketika sangat dendam dengan tokoh jahat, awalnya jagoan kita ingin menghancurkan penjahat itu, tetapi di klimaks, dia mampu menahan keinginan untuk membunuhnya.

Sikap yang menggambarkan seorang jagoan yang bisa menahan nafsu amarahnya.

Walau pun pada kenyataannya, penjahat pasti akan menemui ajal, tapi itu akan dibuat sebab kecurangan atau sifat liciknya sendiri di saat jelang maut.

“Alur perjalanan tokoh utama kita itu disusun secara sistematis dan naratif dalam sebuah sinopsis.”

Sokat – panduan menulis kreatif

Pada sinopsis ini juga bisa dimunculkan plot-plot sampingan.

Misalnya hubungan tokoh utama dengan teman dekatnya, dengan orangtua atau dengan kekasih yang tidak bersinggungan dengan cerita utama.

Cerita sampingan ini atau SUB PLOT dibutuhkan untuk membuat cerita mengalir lebih dinamis.

Jadi, selain ada plot utama, kita juga bisa menuliskan sub plot pada sinopsis.

Sinopsis ini bisa terdiri dari beberapa halaman dan detail, sehingga yang membaca paham tanpa penjelasan tambahan dari penulisnya.

Seperti juga basic story, dalam sinopsis akan lebih jelas informasi dari genre yang diusung.

Bagaimana ketegangannya untuk cerita aksi, terlontar kelucuannya, jika komedi, dan sentuhan emosinya ketika yang kita tawarakan adalah sebuah drama romantis.

Menerapkan Sinopsis ke dalam Treatment.

Setelah sinopsis dibuat, kita harus memecahnya lagi sampai detail mementuk poin-poin yang menggambarkan alur cerita.

Treatment itu ibarat sebuah peta.

Dari poin pertama sampai akhir membuat urutan cerita yang semula masih naratif dalam sinopsis.

Urutan per poin itu sudah memberikan informasi mengenai pergerakan cerita serta set kejadian.

Pergerakan cerita itu tentunya menggerakkan tokoh utama dalam mengejar keinginannya.

Dalam treatment sudah diisi dengan calon bakal dialog. Mungkin tidak lengkap, tapi sudah memberikan inti percakapan.

Penulisan treatmen harus lugas, sehingga produser yang membaca akan mudah paham.

Untuk mudah menuliskan treatmen ini adalah dengan membagi sinopsis cerita yang sudah kita buat menjadi tiga bagian.

theatre-591717_640
dramaturgi

Tiga bagian lagi?

Ya, tiga bagian yang menjadi gambaran bagi aturan drama tiga babak memang lebih mudah dipahami kalau penulis membuat batasan-batasannya dalam sinopsis.

Maksudnya begini, dari sinopsis yang sudah dibuat dalam beberapa halaman itu, penulis pasti tahu yang mana yang menjadi plot awal, tandai itu.

Lalu di cari juga plot untuk cerita bagian tengah, tandai juga.

Dan selanjutnya adalah  menandai bagian akhir.

Setelah semua jelas, penulis tinggal membagi deskripsi pada tiga bagian itu menjadi beberapa poin sesuai kesepatakan.

Sesuai kesepakatan artinya, sebelum itu membuat treatmen itu, biasanya akan ada “kesepakatan” dari produser kalau cerita itu akan dibuat untuk durasi 90 menit.

Dari 90 menit itu kita sudah membayangkan akan berapa scene yang dibutuhkan.

Kita sepakat kalau memakai software Final draft, satu halaman akan seimbang dengan satu menit.

Kalau 90 menit butuh 90 halaman.

Ukuran itu membuat kita bisa menghitung berapa scene yang dibutuhkan.

Anggap saja kita akang membuat satu halaman untuk satu scene, maka kita butuh 90 halaman.

Dari 90 halaman itu akan kita bagi menjadi tiga bagian plot atau 3 babak cerita.

Untuk awal, biasanya dari plot yang ada atau 25% dari keseluruhan jumlah halaman jadi, demikian juga dengan plot akhir.

Dari perhitungan itu sudah bisa dilihat kalau plot tengah, yaitu perkembangan konflik sampai pertarungan hidup mati antara protagonis dan antagonis mendapat jatah halaman paling panjang, yaitu setengah dari jumlah halaman.

Kalau kita ingin mengetik sebanyak 90 halaman, di awal itu 23 halaman, tengah ada 45 halaman, dan di akhir boleh 22 halaman.

Buat apa sih repot membagi-bagi halaman seperti itu?

Kembali saya ingatkan, skenario adalah penulisan teknis, dan pembagian halaman adalah hal teknis yang bisa dilakukan.

Tujuan lainnya adalah agar kita mudah membagi cerita sesuai plot.

Dari perhitungan di atas, kita akan membuat 23 poin untuk pergerakan cerita dari awal sampai batas babak ke-2.

Seperti apa plot di babak pertama?

Ingat, dalam sepuluh menit awal, penonton harus sudah tahu siapa tokoh utama dan gambaran masalah yang akan dihadapinya.

“Kalau dalam sepuluh menit awal, belum bisa memberikan gambaran cerita apa yang akan disampaikan, Film akan berjalan lambat dan membosankan.”

Sokat – Panduan Menulis Cerita

Penonton saat ini ingin secepatnya mengetahui maksud dari Film yang ditontonnya, sehingga mereka akan cepat terikat dengan tokoh utama dan bersedia mengikuti perjalanannya sampai akhir.

Tugas penulislah yang harus membuat itu terjadi.

Dan itu dimulai dari tahap treatmen.

Jangan menganggap remeh tahapan ini, mungkin akan banyak revisi pada bagian ini.

Tetapi, justru itu kelak akan memudahkan penulis.

Lebih baik, menghabiskan waktu dalam  mebuat treatmen yang baik, ketimbang merombak skenario yang sudah jadi.

Tambal sulam di skenario pasti akan membuat efek besar, bisa jadi akan ada bagian cerita yang terputus atau logika cerita kacau.

Jadi, susunlah treatmen sebaik mungkin, atur ulang, kalau belum puas sampai alur cerita berjalan mulus dari babak pertama hingga akhir.

Treatmen adalah bagian akhir dari skenario, hanya tinggal dikasih dialog per tokoh dan scene heading sehingga menjadi sebuah skenario yang utuh.

Susunan pra penulisan skenario ini memang harus dilalui, bukan untuk memperlambat pekerjaan menulis, melainkan agar tercipta sebuah skenario yang bagus dan bernilai jual.

Sebuah skenario yang bagus akan mudah diproduksi oleh sutradara mana pun, termasuk yang amatir.

Ini bukan kata saya, tapi menurut Akira Kurosawa, sutradara asal Jepang yang membuat Film terkenal The Seven Samurai.

With a good script, a good director can produce a masterpiece. With the same script, a mediocre director can produce a passable film. But with a bad script even a good director can`t possibly make a good film. (Akira Kurosawa)

Jadi, kalau ingin membuat skenario bagus, mulailah dibangun dari tahap pra penulisan ini, anggaplah sebagai pondasi.

Kalau pondasi kuat, skenario bagus, Film pun akan menarik untuk ditonton. [sr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s