Mengenal Lebih Dekat Bentuk Skenario

Mengenal Lebih Dekat Bentuk Skenario

Bentuk Skenario

Sebagai sebuah acuan dasar dan sifatnya adalah tulisan teknis, skenario punya ciri tersendiri dalam penulisannya.

Dari mulai ide ditemukan sampai menjadi skenario final merupakan tahapan yang dilalui seorang penulis dalam membangun struktur skenario.

Di atas sudah saya katakan kalau skenario terbentuk dari scene-scene yang secara berututan membentuk sebuah cerita.

Cerita dari awal sampai akhir, dari pengenalan pemain sampai pertarungan hidup-matinya tokoh baik.

Dalam tiap scene ada beberapa istilah yang dipakai untuk menandai masing-masing bagian, yaitu:

  1. Scene Heading: Bisa dikatakan sebagai kepala SCENE
  2. Nomor Scene: Nomor yang ada di depan scene heading
  3. Deskripsi: Berisi keterangan adegan dalam scene itu.
  4. Nama toko: Disesuaikan kalau ada dialog oleh tokoh tertentu.
  5. Dialog: Disesuaikan kalau ada dengan tokoh yang mengucapkan.
  6. Transisi: Tanda berakhirnya scene untuk pindah ke scene berikutnya.

 

Untuk lebih jelasnya, lihat contoh potongan scene dari skenario “Nagabonar” berikut ini:

foto-contoh-skenario
Contoh Skenario (Dok. Pribadi)

Penjelasannya adalah sbb:

  1. 65 = Adalah nomor scene adegan itu.
  2. RUMAH KIRANA – MALAM = Adalah scene heading
  3. INT. = Menunjukkan keterangan tempat, yaitu interior: di dalam ruangan, kalau lokasi di luar ruangan bisa memakai exterior = EXT.
  4. RUMAH KIRANA = Menunjukkan set
  5. MALAM = Menunjukkan waktu

Kalau tidak ada yang khusus, pembagian waktu skenario hanya MALAM dan SIANG.

Siang dibatasi dari pukul 06.00 – 18.00 dan malam sejak pukul 18.00 – 06.00.

  1. Nagabonar duduk berhadapan dengan Kirana…. = Deskripsi adegan.
  2. Kirana = Nama tokoh yang mengucap dialog
  3. Kau jangan terlalu sedih. = Dialog yang diucapkan Kirana.

Dalam skenario ini tidak ada tertulis tanda transisi, tapi ketika di bawahnya adalah scene berikutnya itu artinya transisi scene hanya berupa CUT TO:

Demikianlah bentuk dari sebuah skenario.

Di Hollywood sana, penulis skenario selalu menggunakan satu sotfware yang menjadi rujukan semua penulis, yakni Final Draft (FD).

Konon, satu halaman skenario dengan format FD akan menjadi satu menit tayangan, jadi kalau ingin membuat Film bedurasi 90 menit, harus menulis sepanjang 90 halaman.

FD juga memudahkan sutradara dan kru untuk mem-breakdown skenario.

Pemakaian format FD memang untuk memudahkan produksi.

Untuk penulisannya juga lebih mudah sebab sudah terformat dengan baik.

Di Indonesia, ada beberapa Production House yang sudah menggunakan format FD dalam menerima skenario.

Namun, ada juga PH dan stasiun tv yang masih menerima skenario dalam format MS Office word.

Word tersebut dibentuk berdasarkan format skenario yang ada pada umumnya.

Jadi, soal format bisa disesuaikan dengan PH atau stasiun tv yang akan memproduksi skenario kita menjadi Film.

Demikian saya akhiri bahasan soal mengenal bantuk skenario, semoga bermanfaat. [sr]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s