Mengenal Lebih Dekat Bentuk Skenario

Mengenal Lebih Dekat Bentuk Skenario

 

Sebagai Acuan Dasar

Skenario sebagai acuan dasar atau blueprint dalam membuat film membuat penulisan skenario bersifat teknis.

Artinya, teknik penulisannya berbeda dengan karya prosa, seperti cerpen atau novel.

Skenario ditulis secara filmis, yakni bisa diterapkan oleh sutradara dalam bahasa visual Film.

Jadi, ketika menulis skenario jangan dengan bahasa cerpen atau novel.

Misalnya, Matanya yang tajam seperti mata elang melihat musuhnya dari balik kaca mobil.

“Matanya yang tajam seperti mata elang”, agak sulit digambarkan dengan visual, tapi kalau diganti dengan ”Dia melihat musuhnya dari balik mobil” menjadi lebih mudah dieksekusi dalam produksi.

Skenario punya tipe yang berbeda dengan karya sastra sebab, sekali lagi, skenario bukan karya sastra dan memang tidak diperuntukan untuk dibaca bebas oleh orang selain mereka yang butuh untuk keperluan produksi Film yang bersangkutan.

“Tidak bebas dibaca” maksudnya, ketika skenario itu dibuat tujuannya adalah untuk produksi film, bukan dinikmati sebagai bacaan seperti cerpen atau pun novel.

Bisa saja sehabis produksi, skenario itu ditumpuk begitu saja atau malah terbuang sebab sudah tak terpakai.

Maka dari itu, tidak ada skenario yang dijual sebagai buku bacaan.

Kalau pun ada, itu hanya efek dari sebuah film yang laris manis di pasaran.

buku02
Tambahan wawasan (Dok. Pribadi)

Kemudian untuk menjawab rasa penasaran penontonnya, lalu bagian promosi film atau penerbit yang jeli membeli hak skenario itu dan diterbitkan menjadi sebuah bacaan.Sebagai acuan dasar tentu saja cara penulisan skenario harus mudah dicerna oleh semua divisi dalam produksi film.

Mereka yang akan membaca skenario itu adalah produser, sutradara, DOP (Director of Photography), Director of art, divisi Wardrobe, Kepala unit, dan artis.

Mereka semua berkepentingan mengetahui detail dari skenario untuk menyamakan persepsi atas kebutuhan yang diperluan untuk produksi Film tersebut.

Tiap SCENE yang ada dalam skenario akan di-break down satu per satu oleh sutradara dan krunya.

Sutradara akan menerjemahkan deskripsi scene tersebut menjadi sebuah gambar yang pas sesuai dengan teks.

Bagian artistik akan “membongkar” tiap scene untuk menentukan properti yang dibutuhkan.

Hampir sama dengan bagian wardrobe yang menginterpretasikan tiap scene untuk menentukan kostum tiap pemain.

Aktor akan menafsirkan adegan dengan miki wajah dan gestur tubuh yang pas dengan dialognya.

Sedangkan DOP akan menerjemahan scene berdasarkan sudut pandang kamera, sehingga pas komposisinya di frame.

Frame itu ada “batas” sebuah adegan yang bisa dilihat penonton, kalau di bioskop yang seluas layar bioskop, kalau tv, ya, seukuran kotak layar tv itu.

Itulah fungsi skenario, acuan dasar bagi sutradara dan kru untuk berkreasi membuat sebuah tontonan Film.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s